Senin, 30 November 2020

Berbuat lah yang TERBAIK

 








(Sumber foto:media Republika)

DiBritish Columbia, ada satu SPBU milik pebisnis sekaligus motivator bernama 

Dunsmuir.

Meski hanya SPBU, tapi SPBU ini sangat terkenal dan maju. Sebagian besar SPBU di AS adalah self service, tetapi di SPBU milik Dunsmuir, ada 4 orang pekerja yg melayani setiap mobil yg datang.

Pekerja 1 membukakan pintu dan mempersilakan penumpangnya keluar, kemudian memakai penyedot debu utk membersihkan bangku dan interior mobil. 

Pekerja 2 membuka kap mobil untuk mengecek olinya. 

Pekerja 3 mengisi tangki bahan bakar sambil membersihkan semua kaca jendela mobil.

Pekerja 4 mengecek ban mobil. Semua dilakukan dengan ramah dan bersahabat.

Kebanyakan pekerja itu adalah anak2 muda. Menjadi petugas pompa bensin tentu bukan profesi idaman karena bukan pekerjaan bergaji tinggi.

Namun Mr. Dunsmuir selalu menekankan bahwa sangat mungkin pengemudi mobil yg mereka layani adalah calon bos mereka.

Artinya, jika mereka melayani dengan baik dan bersemangat, itu akan menjadi promosi yg baik. Faktanya memang demikian, banyak dari pekerja SPBU itu kemudian direkrut oleh para bos yg terkesan dengan etos kerja mereka. 

Hal itupun memotivasi para pekerja untuk selalu melayani dengan prima, dan SPBU itu seolah menjadi batu loncatan dan "kampus" kehidupan mereka. 

Tak heran, SPBU itu selalu kebanjiran pelamar. Dan reputasi SPBU dengan pelayanan istimewa itu juga membuatnya selalu laris. 

Yg tak kalah menarik, para mantan pegawai Mr. Dunsmuir juga kemudian selalu mengisi bahan bakar di situ.

Kunci suksesnya adalah EXCELLENT SERVICE dan MOTIVASI YANG MENYALA.

Hal itu juga berlaku bagi setiap kita.

Walaupun pekerjaan yg kita kerjakan saat ini bukan pekerjaan impian kita, tapi jika itu kita lakukan dengan sebaik2nya, itu akan membawa kita ke promosi yg sesungguhnya !! 

Anda tidak akan pernah rugi jika memberi pelayanan terbaik!


Menolong orang lain berarti menolong diri sendiri.

Dari itu berupaya lah untuk melakukan yang terbaik dalam usaha dan pekerjaan yang sedang dikerjakan.

Sebab prinsip dalam ISLAM ialah siapa yang berbuat kebaikan walaupun hanya sebiji bayam yang sangat kecil, atau sebutir debu yang sangat super kecil tetap akan mendapatkan balasan dari yang Maha Kuasa. Jadi tidak akan pernah Merugi orang yang berbuat baik dan terbaik, mulai dari dunia ini sampai akhirat kelak.

Editor : Andi Suhendra SIREGAR


Kisah Inspirasi dan Motivasi

ASSIR adalah alumni pesantren, saat masih duduk di bangku pesantren dahulu kurang lebih sekitar 8 tahun yang lalu, saat mengikuti pelajaran Hadist bersma ustdz Harun Al-Rasyid ia selalu takjub dan kagum dengan bijaksana nya Nasehat nasehat Rasulullah untuk ummat nya,  dan tidak hanya takjub, bahkan terkadang bang As tertantang dengan isi nasehat dari hadist nabi mulia tersebut, apakah benar seperti itu bila dilaksanakan kata-kata nabi akhir zaman ini, diantaranya ketika ia mendengar kan hadis tentang Nikah, diantara hadist yang terus menerus ia ingat  ialah hadis nabi tentang Pernikahan. Diantara sekian banyak hadist nabi tentang Nikah ialah hadits yang bersumber dari Aisyah, yang bunyinya “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya     mereka     akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 

Mengapa Hadist ini yang diingat oleh bg As ketika itu, karena menurut logika nya saat itu, bila seseorang menikah, pasti tanggungan hidup orang itu akan bertambah, yang awal nya hanya seorang diri ketika sudah menikah akan ada istri, selanjutnya tidak akan lama akan lahir anak, belum lagi tanggungan hidup yang lain, seperti kredit kendaraan, kredit rumah dan sebagainya. Bagaimana pulak dengan Matan Hadist diatas disebutkan bahwa dengan Menikah akan bertambah rezeki. 

Belum lama pelajaran hadist ini berlangsung dari kelas nya, baru ia teringat dengan fakta yang dialami oleh Abang kandungnya sendiri. Yah, emang ada dengan pengalaman abang nya?..
Mari kita ikuti kelanjutan cerita bg As,.
Bermula saataat abang nya As mengenyam pendidikan tingkat menengah atas (SMA) di Jakarta kala itu, ia tinggal bersama pamannya yang pada saat itu pamannya ini seorang Jurnalis terkenal dimasa nya, ia berprofesi Wartawan di Republika, sehingga paman nya ini mendidik ponakannya agar bisa mandiri, dengan cara ia perintahkan ponakannya ini untuk menjadi agen penjual koran, awalnya ia juga termasuk anggota tukang antar koran hingga akhirnya dengan kerja keras dan kerja cerdas nya, membuat ia menjadi diangkat ke bagian korlap yang meng anggotai puluhan anggota. Dimana pada masa itu, sembari ia sekolah SMA ia jugasjuga bisa mendapatkan gaji bulanan nya sekitar 3 sampai 4 juta perbulan. 
Sampai terdengar kabarnya dari paman bahwa abang nya bang As sebentar lagi akan bisa mengirim uang untuk membantu ekonomi orang tua bg As. Hampir setiap diawal bulan ibu As menungggu kabar dari anak atau adik nya, kapan jadi mengirim ? Selalu jawaban nya Abang As sebentar lagi, sebentar lagi, hingga berbulan-bulan tidak pernah datang kiriman yang dinantikan, selalu alasan nya motor yang rusak, hp yang rusak dan hilang, hingga membuat mamak as menangis saat berkerjasama dikebun  bersma As

Keluarga Kecil

 Saat masih berada di bangku kuliah, kita sering mendengar istilah keluarga kecil, saat itu mungkin kita masih belum memahami secara mendalam makna dari kalimat singkat itu, Sebab menurut penulis pada saat itu dengan membuat kalimat Keluarga kecil seolah-olah memperkecil cakupan hubungan dalam kekeluargaan. Namun setelah penulis tamat dari bangku kuliah strata 1 dan Alhamdulillah ketika sudah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, baru penulis pahami dengan jelas, kalimat singkat itu. Yah, meskipun kedengarannya kalimat itu singkat hanya terdiri dari dua kata *Keluarga dan *kecil, namun dalam kenyataannya untuk menjalankan dan menjadikan keluarga kecil itu bertahan dengan penuh kebahagiaan terasa amat sulit, sangat banyak didapatkan didalamnya dinamika kehidupan berkeluarga, terkadang ada senang dan bahagia, terkadang ada juga sedih, menangis, tertawa, tersenyum, bahkan terkadang ada perdebatan, yang kadang-kadang bisa mengakibatkan keributan. Begitulah nama nya kehidupan suami dan istri, buktinya waktu lajang dahulu mana ada seperti itu, namun tetap harus diingat, bukankah tujuan menikah termasuk Ibadah, yah. harus ingat, setiap Ibadah yang hendak dilakukan ataupun sudah dilakukan sungguh sangat banyak godaan didalamnya, contohnya saja, saat mau sholat sudah digoda, ketika sholat juga sudah digoda, sampai sehabis sholat pun digoda, begitu juga dengan Pernikahan ini, jadi pada Intinya untuk Tercipta Keluarga Kecil yang Sakinah, mawaddah warahmah ini, juga aman damai bahkan tentram dan nyaman antara satu dengan yang lainnya, hendaklah perbanyak rasa saling memahami, pengertian, dan perhatian. Jangan sempat ada salah satu dari pasangan, maunya hanya ingin diperhatikan, dipahami, disayangi, diladeni, namun harus saling berkolaborasi. Sebab kalau ada sempat semacam ini, itulah satu diantara masalah yang membuat keributan didalam keluarga. Selanjutnya, harus diingat, ada nya keluarga kecil, karena keberadaan keluarga besar, jadi meskipun kita sudah memiliki keluarga kecil masing-masing, namun jangan pernah lupakan keluarga besar, sebab keberadaan mereka didalam keluarga kecil sangatlah penting, dan harus diperhatikan betul keberadaan mereka, ayah,ibu maupun mertua didalam keluarga kecil bukanlah sebagai HAKIM yang selalu melihat pada satu sisi dan menjadi sebagai penentu benar atau salah, namun keberadaan mereka didalam keluarga kecil ialah sebagai GURU atau PENASEHAT, yang selalu mengajarkan Nilai dan norma kehidupan berkeluarga, mereka mesti mendengarkan curhatan dari dua belah pihak lalu memberikan masukan ide,saran, atau bahkan nasehat, untuk mencari titik terang dari permasalahan yang dihadapi, Bila semua orang sudah memahami posisi nya didalam sebuah keluarga, maka InshaAllah akan tercipta lah keluarga harmonis, yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Suami mengetahui posisi nya sebagai suami serta mengetahui tugas dan fungsinya sebagai suami untuk istrinya, dan ayah bagi anak-anak nya, begitu juga dengan istri, ia paham betul dengan posisi nya sebagai istri serta mengetahui tugas-tugasnya sebagai istri, selanjutnya anak pun begitu, dan dari keluarga besar seperti ayah dan ibu beserta mertua, kamu adalah penasehat untuk anak-anak dan menantu mu, Jangan mudah untuk menjudge atau bahkan memvonis mereka, Sebab tugas kalian untuk kami bukan itu, kami butuh akan nasehat-nasehat bijak dari kalian. Sebab kalian telah mengalami kehidupan dalam berkeluarga jauh lebih dahulu dari kami, Ilmu dan pengalaman kalian pasti sudah teruji kematangan nya, dari itu jangan pernah bosan untuk memberikan motivasi dan nasehat bijak kepada kami. Terakhir, pada saatnya semua manusia akan kembali keharibaan Allah SWT. Semoga seluruh keluarga kita termasuk calon penghuni surga, sampai akhirnya kita tidak hanya berkeluarga dan berfamili di dunia, tetapi kita berkeluarga sampai di surga Nya Allah SWT. Aamiin.


Minggu, 29 November 2020

3 NASEHAT SINGKAT NAN AGUNG 'ALA RASULILLAH SAW.

 


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasshalatu wassalamu 'ala rasulillahi ajma'in amma ba'du. Saudaraku, SeIman dan seAqidah. Allah SWT. telah mengumpulkan pada diri Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam tutur kata yang sangat indah, singkat namun kaya makna dan sempurna. Siapa yang memiliki hubungan kuat dengan sunah dan petunjuk sebaik-baik hamba ini -semoga shalawat serta salam selalu tercurah untuknya- maka ia beruntung di dunia dan akhirat. Mari sejenak kita bersama menyelami nasehat Nabi kita –alaihissholaatuwassalam– yang singkat namun dalam maknanya, besar pengaruhnya dan terkumpul banyak kebaikan.

Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Ibnu Majah dan yang lainnya, dari hadis Abu Ayub Al-Anshori- radhiyallahu’anhu– bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Beri aku nasehat singkat”. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمَعْ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي يَدَيْ النَّاسِ

Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari dan kumpulkan keputus-asaan terhadap apa yang ada pada manusia”.

Nasehat pertama : menjaga sholat dan memperbaiki penunaiannya

Nasehat kedua : menjaga lisan

Nasehat ketiga : qona’ah serta menggantungkan hati hanya kepada Allah.

Pada wasiat pertama, Nabi menasehatkan kepada orang yang melakukan shalat untuk merasa bahwa shalatnya adalah sholat terakhir baginya. Karena sudah lumrah bahwa perpisahan akan membuat seseorang maksimal dalam berucap dan bertindak, totalitas yang tidak didapati pada keadaan lainnya. Seperti yang lumrah terjadi di saat berpergian, seorang yang pergi dari suatu daerah dengan rencana kembali ke daerah tersebut, berbeda dengan orang yang pergi tanpa ada rencana ingin kembali. Seorang yang berpisah, akan melakukan totalitas (meninggalkan jejak baik) yang tidak dilakukan oleh yang lainnya.

Bila seorang sholat dengan perasaan seakan sholat itu adalah sholat yang terakhir baginya; ia tidak akan bisa sholat lagi setelah ini, tentu ia akan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sholat itu. Dia perindah penunaiannya, proposional dalam ruku’, sujud, menunaikan kewajiban-kewajiban serta sunah – sunah sholat dengan sebaik mungkin.

Maka selayaknya seorang mukmin mengingat pesan ini di setiap shalatnya. Lakukanlah sholat seakan sholat itu adalah sholat perpisahan, hadirkan perasaan bahwa itu adalah shalat yang terakhir. Apabila ia merasakan itu maka akan membawanya menunaikan sholat dengan sebaik mungkin.

Dan siapa yang sholatnya baik, maka ibadah sholatnya akan menghantarkan pada kebaikan-kebaikan dan menghalangi dari segala keburukan dan kerendahan. Ia akan merasakan manisnya iman. Sholat menjadi penyejuk pandangan dan penyebab kebahagiaan untuknya.

Kemudian wasiat kedua, tentang menjaga lisan. Karena lisan adalah hal yang paling berbahaya bagi manusia. Saat perkataan belum terucap ia masih dalam kendali pemilik ucapan. Adapun saat ucapan telah keluar dari lisan, ucapan itulah yang akan menguasainya dan ia menanggung resikonya. Oleh karena itu Nabi ‘alaihissholaatuwassalam berpesan, “Jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari.” Artinya bersungguh-sungguhlah menahan lisanmu dari ucapan yang membuat dirimu harus meminta uzur di kemudian hari; setiap perkataan yang membuatmu meminta maaf. Karena sebelum perkataan itu terucap ia berada dalam kekuasaanmu, namun bila sudah terucap maka perkataan itulah yang akan menguasaimu.

Nabi ‘alaihissholaatuwassalam pernah berpesan kepada Mu’adz radhiyallahu’anhu,
“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?”

“Mau ya Nabi Allah.” Jawab Mu’adz.

Kemudian Rasulullah memegang lisan beliau seraya bersabda, “Jagalah ini.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan disiksa juga karena ucapan kita?”

Nabi menjawab,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ـ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ ـ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم

Ah kamu ini, bukankah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda beliau: di atas hidungnya- itu tidak lain karena buah dari ucapan lisan-lisan mereka?!” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih).

Maka lisan ini sangat berbahaya.

Dalam hadis shahih lainnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga berpesan,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami. Karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami pun baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun ikut melenceng” (HR Tirmidzi no 2407 dan dinilai hasan oleh Al Albani).

Kemudian sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Janganlah mengatakan suatu ucapan yang membuatmu harus minta maaf di kemudian hari.”

Pada kalimat ini terdapat ajakan untuk memuhasabah ucapan yang hendak disampaikan, yakni memikirkannya terlebih dahulu. Jika ucapan itu baik maka silahkan sampaikan. Jika tidak, maka tahanlah lisan anda. Atau jika ragu baik atau buruknya ucapan, tahanlah lisan dalam rangka menghindari perkara syubhat, sampai tampak perkara tersebut di hadapan anda. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله واليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa banyak orang yang menjatuhkan diri mereka pada kesalahan yang fatal, disebabkan ucapan yang tidak mereka pertimbangkan. Kemudian berakibat musibah baginya di dunia dan di akhirat, suatu akibat yang tak terpuji. Orang yang berakal adalah yang menimbang ucapannya dan ia tidak berbicara kecuali seperti yang dinasehatkan Nabi kita alaihissholaatuwassalam; perkataan yang tidak membuatnya harus meminta maaf di kemudian hari.

Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “…dengan perkataan yang membuatmu minta maaf di kemudian hari.” bisa bermakna saat anda berdiri di hadapan Allah atau membuatmu meminta di kemudian hari maksudnya di hadapan manusia, saat mereka menuntut ucapan anda. Bila kita mengambil makna pertama maka pesan ini ada kaitannya dengan sholat. Karena alasan apa yang akan diucapkan orang-orang yang menyia-nyiakan sholat di hari kiamat nanti?! Padahal sholat adalah amalan yang paling pertama ditanyakan.

Wasiat ketiga berisi ajakan untuk qona’ah, serta menggantungkan hati hanya kepada Allah, dan memupuskan harapan terhadap harta-harta yang di tangan manusia. Beliau bersabda,

وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاس

Kumpulkan keputusasaan terhadap apa yang ada pada manusia”.

Maksudnya bertekatlah dalam hatimu untuk memutuskan asa terhadap apa saja yang di tangan manusia. Jangan gantungkan harapan pada mereka. Jadikanlah pengharapanmu sepenuhnya hanya kepada Allah Jalla wa ‘ala. Sebagaimana dengan lisan anda tidak pernah berdoa kecuali kepada Allah, maka demikian juga sepatutnya dengan sikap anda jangan gantungkan harapanmu kecuali kepada Allah. Pupuskanlah segala pengharapan kepada siapapun kecuali kepada Allah, sehingga pengharapanmu hanya tertuju kepada Allah semata.

Dan sholat adalah penghubung antara dirimu dan tuhanmu. Dalam sholat terdapat pertolongan terbesar untukmu dalam merealisakan sikap ini.

Siapa yang memutus pengharapan terhadap apa yang di tangan manusia, maka hidupnya mulia. Siapa yang hatinya bergantung pada kepada kekayaan manusia, maka hidupnya hina. Dan barangsiapa yang menggantungkan hatinya hanya kepada Allah, tidak mengharap kecuali kepada Allah, tidak meminta hajatnya kecuali kepada Allah, tidak bertawakkal kecuali hanya kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan segala kebutuhan dunia dan akhiratnya. Allah ‘azzawajalla berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya” (QS. Az Zumar 36).

Allah juga berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At Tholaq : 3).

Hanya Allah semata yang memberikan taufik.


Editor : Andi Suhendra SIREGAR
Sumber : https://muslim.or.id/29034-tiga-pesan-agung-dari-nabi-shallallahualaihi-wasallam.html