Dahulu saat dipenghujung kuliah sering mendengar teman-teman membuat statemen baik melalui tulisan maupun lisan, dengan ucapan yang bunyinya kurang lebih "Setelah Skripsi Terbit lah Resepsi", tulisan itu beredar disosial media, baik di Facebook, Tweeter, Instagram dan sosmed lainnya.
Tidak hanya itu, ketika suasana melelahkan dan menegangkan yang memakan banyak waktu, pikiran,tenaga bahkan uang telah terlalui tibalah saatnya momen yang ditunggu dan dinanti oleh setiap mahasiswa yang menurut sebagian besar orang sekali seumur hidup, yaitu Acara WISUDA. kembali lagi terdengar dari teman seperjuangan istilah "PW", sikawan penulis bertanya " kamu sudah ada PW untuk acara wisuda nanti?" Saat mendengar istilah PW penulis dengan lugunya bertanya balik sama si penanya, " emang PW itu apaan sih?", memang saat itu penulis belum tau persis yang dimaksud dengan PW saat wisuda, sebab selama kuliah penulis sering mendengar istilah PW itu Pengurus Wilayah dalam Organisasi atau kelembagaan, namun ternyata maksud teman yg bertanya PW itu ialah *Pendamping Wisuda* seketika itu penulis tersenyum untuk menjawab pertanyaan kawan nya, yah udah pastilah ada PW ku, Alhamdulillah keluarga bisa hadir dalam wisuda ku kali ini, ayah, ibu, dan adik-adikku, yang mana saat wisuda dan tamatan saat Aliyah dahulu tak ada seorang pun keluarga ku yang menghadiri. Kali ini dengan Rahmat dan pertolongan Allah SWT. Ibu juga bisa hadir, padahal selama ini mamak tidak bisa berpergian jauh-jauh dengan mobil atau bus, karena ibu akan muntah-muntah atau bahkan bisa hampir pingsan. Namun saat acara wisuda ku ini, dengan dorongan yang kuat dan bujukan yang terus menerus kusampaikan dan selalu ku kuatkan bahwa mamak pasti bisa, dan akan kami do'akan terus selama mamak di perjalanan, Alhamdulillah berkat doa bersama dari anak-anak nya, ia pun kuat sampai di ibukota Provinsi Sumatera Utara yang memakan waktu kurang lebih 10 jam an. Begitu lama penulis berbicara dan menjelaskan curhatan nya kepada temannya , lalu teman itu berbisik, "bukan itu yang kumaksud sobat,.... yang kumaksud itu Pendamping Wisuda yang bakalan ente ajak nantinya untuk Pra Wedding alias seorang wanita yang bakalan ente ajak untuk menikah nantinya....." Intonasi suara yang agak meninggi dan raut wajahnya agak emosi karena geram dengan kepolosan sahabat nya, lalu penulis pun menjawab nya dengan santai dan santun menanggapi kondisi temannya yang sudah agak sedikit emosi, " sobat ku,... Pertanyaan ente ini sudah jauh-jauh hari dipertanyakan oleh saudara, famili bahkan orang terdekat ku, tidak hanya saat sedang kuliah atau tamat kuliah, namun pertanyaan ini sudah ditanyakan saat aku masih di bangku sekolah tepat nya kelas 3 MTs dan kelas 1 MAS dahulu, jawaban ku akan tetap sama, yaitu aku tak akan menikah sebelum bisa membahagiakan orang tua ku", lalu teman yang tak mau kalah dan mengalah itu bertanya kembali, " ente yakin akan menikah setelah orang tua ente bisa ente bahagiakan, emangnya bagaimana indikator kebahagiaan orang tua antum menurut antum?, Kalau seandainya mereka belum merasa bahagia dengan perlakuan antum 10 tahun kedepan setelah tamat kuliah, berati kira kira usia antm sudah 33 tahun, apakah akan tetap belum menikah?"... Penulis menjawab" InshaAllah orang tua ana orang nya tidak ribet kok, buktinya saat ku kabari aja berita ana akan wisuda mamak udah nangis bahagia dan terharu sambil berucap, "padahal nak kau kuliah mandiri, biaya sendiri, bahkan terkadang dari uang saku yang kau miliki nak, baik itu dari beasiswa ataupun dari jerih payah mu ngajarin anak ngaji masih sering-sering kau kirim untuk kami dikampung, hari ini kau kabarkan akan wisuda betapa bahagianya mamak nak", sambil berucap sambil menangis mamak saat itu. Dan indikator kebahagiaan orang tua ku menurutku diantara nya ialah ketika beban dan kewajiban mereka dapat kukurangi minimal nya, karena saat aku sekolah dahulu ketika kelas XI dan XII Aliyah, aku disekolahkan abang ku, dari itu aku juga harus bisa seperti itu, harus bisa membiayai adik ku sekolah, selanjutnya ketika mereka dapat ku gandeng ke tanah suci baik itu haji ataupun Umrah, baru aku akan menikah"...
Mendengar jawaban ku, sobat itu lalu berkata yah, semoga apa yang kau impikan terkabul, tapi jangan sampai ente dipanggil uwak sama anak-anak adik ente baru ente menikah yah,. Begitu ia akhiri ucapannya, ia melanjutkan aktivitas nya.
Nah,.. cerita pendek diatas adalah sedikit pengantar dari kisah awal perjalanan seorang Pemuda yang semasa kuliah nya bertugas menjadi Penjaga Masjid (PM) dalam menemukan jodoh nya.
Memang, jauh hari sebelum menikah ia sudah membuat rencana karir atau planning masa depan. Yaitu:
1. Menikah setelah tamat minimal S-2 atau S-3.
2. Menikah ketika sudah hidup mapan dan berpenghasilan yang menjanjikan
3. Menikah ketika sudah bisa membiayai sekolah adik
4. Menikah ketika sudah bisa mengUmrahkan orangtua setidak-tidaknya ayah atau ibu.
Dan masih banyak lagi target yang harus tercapai baru MENIKAH.
Namun ketika dalam perjalanan mewujudkan impian dan target-target yang sudah ia rancang, hasil nya tidak sesuai dengan harapan, S-2 ke Eropa tepatnya Perancis tidak jadi karena Jurusan yang tidak Linear, padahal persiapan bahasa selama 6 bulan sudah dikejar, dan karena Private bahasa Perancis selama 6 bulan ini mengakibatkan S-2 yang sudah ia ambil di kampus UIN Su dengan ikhlas harus ia tinggalkan, selanjutnya aktivitas mengajar di sekolah kembali ia lanjutkan, karena bagaimana pun kesibukan dan apapun impian nya, ia juga harus bisa mengusahakan impian adek nya untuk bisa menjadi Hafidz Al-Qur'an, karena sesuai dengan tekadnya, setamat dari SD adik nya yang nomor 10 ini, jenjang pendidikan adik bungsunya mulai MTs sampai Aliyah nya harus ia yang membiayainya dan Alhamdulillah, dengan izin Allah adik nya bisa masuk ke salah satu Pesantren Tahfidz Al-Qur'an yang ada di Medan.
Seiring berjalannya waktu, sambil mengajar di sekolah-sekolah swasta sebagai guru honor yang gajinya Alhamdulillah pas-pasan untuk makan dan bensin sepeda motornya, sambil melanjutkan pekerjaan dari awal kuliah S-1 dahulu yaitu menjadi Marbot (Pengurus Masjid) dan guru mengaji serta guru privat rumah ke rumah, alhamdulillah dengan rezeki itu ia bisa menghidupi dirinya dan adik nya yang sedang menghafal Al-Qur'an.
Namun, dicelah-celah aktivitas dan rutinitas yang ia jalani saat itu, timbul lagi dibenaknya seperti pembicaraannya dengan teman nya dahulu, apakah ia akan menikah ketika usia sudah lanjut?.. karena bila prinsip lama nya yang ia pedomani, boleh jadi pernikahan nya akan berlangsung setelah usia minimal 35 tahun atau 40 tahun, setelah adiknya tamat sekolah dan orang tuanya bisa diumrahkan nya dari gaji hasil mengajar yang pas-pasan itu dan bantuan saudaranya.
ketika itu Mulailah Dilema hidup menghampiri kehidupannya, apalagi saat-saat itu berdatangan undangan pernikahan dari teman sekampus dan teman sesekolahnya. Apa tidak semakin galau?... Ditambah lagi pertanyaan-pertanyaan dari kiri, kanan, muka, belakang, dari penanya yang jumlahnya tidak hanya satu dua orang,
Bahkan bisa puluhan orang yang bertanya, namun pertanyaannya hampir sama semua, yaitu KM ( Kapan Menikah?). Wah.. semakin kacau deh... Istilah gaulnya "Apa Kata Dunia??"
Sampai disini Bagaimana menurut saudara/i pembaca yang budiman ?..
Mau Menikah, atau lanjutkan aktivitas seperti biasa..
Mungkin hampir sama bagi kaum Adam, ketika ditanya kenapa belum Menikah? Kemungkinan besar jawabannya, karena oh karena..., belum dapat jodoh yang cocok....
Atau mungkin jawabannya, karena belum mapan, bagaimana mau menikah? Makan aja bisa sudah syukur.. Yah, masuk diakal juga sih, saat masih lajang gaji pas-pasan akan bisa dipas-paskan untuk kehidupan sendiri, nah kalau udah menikah pasti akan berfikir cari rumah kontrakan, bayar listrik, bayar air, belik kebutuhan rumah tangga, kebutuhan istri dan masih banyak lagi yang mau dibelik dengan uang yang pas-pasan.
Inilah mungkin alasan sebagian anak muda maka nya lama membujang. Begitu juga dengan penulis ketika itu, Sebab penulis sudah merasa aman dan nyaman saat itu, sejak dari awal kuliah sampai tamat kuliah tidak pernah merasakan yang namanya bayar uang kos-kosan, bayar listrik, bayar air, seperti kebanyakan temannya yang ngekos dan ngontrak, karena sejak dahulu ia sudah menjadi pengurus masjid, jadi sudah lumayan enak, tempat tinggal disediakan, listrik air gratis, bahkan sering mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka berupa makanan, uang, baju dan sebagainya. Padahal kerjanya hanya membersihkan Masjid, kamar mandi Masjid, halaman nya, mulai dari menyapu, ngepel lantainya, membersihkan sajadah nya, azan, Iqamat, Menjadi Imam, mengisi Khutbah saat khatib berhalangan, ikut perwiritan bapak-bapak, ikut pengajian anak remaja masjid dan lain sebagainya.
Oke deh kita lanjut kembali cerita bang PM.
Disaat-saat memuncak dilema hati bang PM tentang karir yang akan dicapai dan menemukan sidambaan hati, ia beranikanlah meminta pendapat orang tua nya, sebab sudah kebiasaan bang PM untuk bertanya pada ibu nya bila ia mendapati masalah dalam hidupnya.
Ia sampaikan isi hatinya, bahwa ia sudah merasa cocok untuk menikah, meskipun persiapan finansial nya belum ada, paling tidak ia ingin tahu bagaimana respon ibu nya, dan Alhamdulillah, kembali bg PM mendapatkan respon yang baik, mama nya menjawab " ia nak, kalau sudah ada yang cocok tidak masalah itu, InshaAllah cita-cita baik mu pun akan tercapai, meskipun bila kamu sudah menikah, atau mungkin impian mu itu akan lebih mudah terkabul ketika kau sudah punya istri nak," mendengar jawaban mamaknya, bang PM rasanya seperti kejatuhan emas satu ember.. MashaAllah. Terakhir nasehat mamak bang PM, " carilah nak yang cocok menurut mu, dan cocok menurut yang maha kuasa Artinya terlebih dahulu Sholat Istikharah kan dahulu", mengapa mamak bg PM mengingatkan harus dari hasil Istikharah, karena ia mengetahui bahwa anaknya ketika itu tidak sedikit anak gadis yang mendekati dan Pdkt padanya.
Dari diskusi bg PM dengan mamak nya, hingga terbuka lebar bagi nya pintu untuk akan segera menyempurnakan separuh Agama nya, Sebab bg PM tahu, bilamana mamanya sudah Ridho, meskipun modal Nikah bg PM belum ada, InshaAllah dengan kata-kata dan ilmu Negosiasi ibu nya semua urusan akan lancar.
Semua ketakutan dan kekhawatiran bang PM tentang Dana dan biaya kehidupan setelah Nikah nanti bisa diatasi. Apalagi setelah berkali-kali mendengar kan ceramah UAH / Ustadz Adi Hidayat semoga Allah merahmatinya, dalam ceramahnya lewat YouTube,. Diantara Nasehat dan pesan beliau kurang lebih seperti " Jangan pernah pakai Logika anak muda dengan logika ketika sudah berkeluarga, sebab perhitungan saat masih lajang tidak sama dengan perhitungan ketika berkeluarga (perhitungan masalah rezeki) yang penting Yakin dengan Hadist nabi bahwa dengan Menikah Allah akan memperluas Rezeki, setelah Yakin baru berusaha dan berdoa," seperti itulah kurang lebih isi ceramah dari UAH, dan begitu juga dengan calon istri yang sudah didapatkan bang PM lewat Sholat Istikharah dan Tahajjud nya, yang selalu memotivasi, menyemangati, dan meyakinkannya, "InshaAllah pasti bisa Akhy, apa yang antum impikan dan cita-cita kan tidak akan terhalangi oleh pernikahan, asal usaha dan doa yang dilakukan sungguh-sungguh, serta selalu minta doa dan Ridho orang tua." Begitulah kurang lebih masukan dari calon ibu bagi anak-anak bang PM kala itu.
Dengan begitu bg PM pun sampaikan Niatan nya kepada orang tuanya, bahwa setelah Hari Raya Idul Fitri 1440 H/ atau bulan Juni 2018, bila Allah berkehendak dan direstui oleh ibu dan ayah mereka akan melanjutkan pernikahan nya.
Namun mendengar semangat anak nya yang untuk beribadah ini, maka mamak bang PM pun menawarkan untuk apa diperlambat hal baik, sesuatu yang baik itu tidak baik diperlambat begitulah kira-kira pernyataan mamak bg PM, bagaimana kalau sebelum Puasa aja dilangsungkan akad pernikahan nya dan resepsi nya ujar mamak Bg PM. Alhamdulillah usulan itupun disetujui oleh dua belah pihak, tepat pada tanggal 6 April 2018 bertepatan dengan hari Jumat, Akad pernikahan Penjaga Masjid pun diberlangsungkan di kediaman mempelai wanita tepat nya di Desa Parbeokan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun Siantar.
Dengan Motivasi Hadits nabi yang PM pelajari ketika di Pesantren dahulu, dan Meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Rezeki orang yang sudah menikah tidak akan sama dengan yang belum menikah ternyata hal ini sangat benar adanya, Maha Benar Allah dengan segala janji-janjiNya dan dengan Kebenaran Muhammad Rasulullah dengan seluruh perkataan dan perbuatannya.
Inilah Hadist yang Menjadi Motivasi bagi bang PM pada khususnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya :
Dari 'Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu" (HR. Hakim dan Abu Dawud).
Dan Alhamdulillah dengan Izin ALLAH SWT. Setelah bg PM menikah dengan gadis pilihan nya beberapa cita-cita dan impiannya dapat jadi kenyataan.:
○Adek nya terus melanjutkan Hafalan Qur'annya, 3 Tahun di Pesantren Darul Qur'an, setamat dari DaQu, ia melanjutkan ke Rumah Tahfidz Zamzami dan formal nya di MAS..Al-Washliyah Qismul Ali Jl.Ismailiyah Medan.
○Saat adik perempuan Tamat Aliyah dan berkeinginan masuk TAHFIDZ AL-QUR'AN, Alhamdulillah bisa.
○Bisa membeli sepeda motor baru.
○Setelah Menikah bisa Melanjutkan dan Menyelesaikan Pendidikan S-2
○Bisa Umrah bersama Ibu tercinta (belum genap 2 Tahun Pernikahan).
○Bisa Membeli Pertapakan Rumah di ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Tepatnya Kota Medan.
Dan masih banyak lagi perolehan Rezeki dari Allah SWT yang ia dapatkan setelah pernikahannya Hingga pada akhirnya bila ada teman yang bertanya, "Bagaimana Rasanya setelah MENIKAH"?..
Maka ia pun menjawab " Saya Menyesal Menikah", yah menyesal menikah nya kenapa kelamaan menikah nya, kenapa harus di Usia 24 Tahun lebih MENIKAH nya, kenapa tidak saat usia 20 Tahunan dahulu" karena begitu Banyak yang didapat kan saat sudah MENIKAH, Diantara nya Tersempurnakan separuh Agama, Terjaga nya hati dan anggota tubuh dari maksiat, Mendapatkan banyak Rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Yaa Rabb.. jadikanlah hamba dari bagian hamba yang senantiasa bisa Mensyukuri Nikmat yang telah engkau berikan...
*Menurut bg PM Logika Rezeki saat Menikah*
1+1+1= 111, mengapa begitu jawaban nya, karena.
1 Sumber Rezeki dari Suami
1 Sumber Rezeki dari Istri
1 Sumber Rezeki dari Anak
Sama dengan (=) hasilnya banyak,. Dan bisa terbagi untuk orang lain.
*Logika Rezeki Jomblo menurut pengalaman bg PM*
Sumber Rezeki hanya diri sendiri, jadi hasil nya pas-pasan untuk diri sendiri, hanya sedikit yang terbagi untuk orang lain.
Allahu A'lam bisshowaf....
Penulis: Andi Suhendra SIREGAR








