Sabtu, 05 Desember 2020

Aku Menyesal MENIKAH

Dahulu saat dipenghujung kuliah sering mendengar teman-teman membuat statmen baik melalui tulisan maupun lisan, dengan ucapan yang bunyinya kurang lebih "Setelah Skripsi Terbit lah Resepsi", tulisan itu beredar dijagad sosial media, baik di Facebook, Tweeter, Instagram dan sosmed lainnya. 
Tidak hanya itu, ketika suasana melelahkan dan menegangkan yang memakan banyak waktu, pikiran,tenaga bahkan uang telah terlalui tibalah saatnya momen yang ditunggu dan dinanti oleh setiap mahasiswa yang menurut sebagian besar orang sekali seumur hidup, yaitu Acara WISUDA. kembali lagi terdengar dari teman seperjuangan istilah "PW", sikawan bertanya " kamu sudah ada PW untuk acara wisuda nanti?" Saat mendengar istilah asing itu pun penulis dengan lugunya bertanya balik sama si penanya, " emang PW itu apaan sih?", memang saat itu penulis belum tau persis yang dimaksud dengan PW saat wisuda, sebab selama kuliah penulis sering mendengar istilah PW itu Pengurus Wilayah dalam struktural Organisasi, namun ternyata maksud teman yg bertanya PW itu ialah *Pendamping Wisuda* seketika itu penulis tersenyum untuk menjawab pertanyaan kawan nya, yah udah pastilah ada PW ku, Alhamdulillah keluarga bisa hadir dalam wisuda ku kali ini, ayah, ibu, dan adik-adikku, yang mana saat wisuda dan tamatan saat Aliyah dahulu tak ada seorang pun keluarga ku yang menghadiri. Kali ini dengan Rahmat dan pertolongan Allah SWT. Ibu juga bisa hadir, padahal selama ini mamak tidak bisa berpergian jauh-jauh dengan mengendarai mobil atau bus, karena ibu akan muntah-muntah atau bahkan bisa pingsan. Namun saat acara wisuda ku ini, dengan motivasi yang kusampaikan dan selalu ku kuatkan bahwa mama pasti bisa, dan akan kami do'akan terus selama mamak di perjalanan, Alhamdulillah bersama dari anak-anak nya, ia pun kuat sampai di ibukota Provinsi Sumatera Utara. Begitu lama penulis berbicara dan menjelaskan curhatan nya kepada temannya , lalu, teman itu berbisik, "bukan itu yang kumaksud sobat, yang kumaksud itu Pendamping Wisuda yang bakalan ente ajak nantinya untuk Pra Wedding alias perempuan yang bakalan ente akan nikahin nantinya....." Intonasi suara yang agak  meninggi dan raut wajahnya agak emosi karena geram dengan kepolosan ku, lalu penulis pun menjawab nya dengan santai dan santun menanggapi kondisi temannya yang sudah agak sedikit emosi, " sobat ku,... Pertanyaan ente ini sudah jauh-jauh hari dipertanyakan oleh saudara, famili bahkan orang terdekat ku, tidak hanya saat sedang kuliah atau tamat kuliah, namun pertanyaan ini sudah ditanyakan saat aku masih di bangku sekolah tepat nya kelas 3 MTs dan kelas 1 MAS dahulu, jawaban ku akan tetap sama, yaitu aku tak akan menikah sebelum bisa membahagiakan orang tua ku", lalu teman yang tak mau kalah dan mengalah itu bertanya kembali, " ente yakin akan menikah setelah orang tua ente bisa ente bahagiakan, emangnya bagaimana indikator kebahagiaan orang tua antum menurut antum?, Kalau seandainya mereka belum merasa bahagia dengan perlakuan antum 10 tahun kedepan setelah tamat kuliah, berati kira kira usia antm sudah 33 tahun, apakah akan tetap belum menikah?"... Penulis menjawab" InshaAllah orang tua ana orang nya tidak ribet kok, buktinya saat ku kabari aja berita ana akan wisuda mamak udah nangis bahagia dan terharu sambil berucap, "padahal nak kau kuliah mandiri, biaya sendiri, bahkan dari uang yang kau cari termasuk dari beasiswa yang engkau dapatkan masih sering-sering kau kirim untuk kami dikampung, hari ini kau kabarkan akan wisuda betapa bahagianya mamak nak", sambil berucap sambil menangis mamak saat itu. Dan indikator kebahagiaan orang tua ku menurutku diantara nya ialah ketika beban dan kewajiban mereka dapat kuambil alih, seperti membiayai adik ku yang sedang sekolah, selanjutnya ketika mereka dapat ku gandeng ke tanah suci baik itu haji ataupun Umrah, baru aku akan menikah"...

Mendengar jawaban ku, sobat itu lalu berkata yah, semoga apa yang kau impikan terkabul, tapi jangan sampai ente dipanggil uwak sama anak-anak adik ente baru ente menikah yah,. Begitu ia akhiri ucapannya, ia melanjutkan perjalanan nya. 

Nah,.. cerita pendek diatas adalah sedikit pengantar dari kisah awal perjalanan Bang Regar dalam menjemput jodoh nya,. 

Memang, jauh hari sebelum menikah aku sudah membuat rencana karir ku, ringkasnya:

1. Menikah setelah tamat S-2 
2. Menikah ketika gaji sudah mapan
3. Menikah ketika sudah bisa menyekolahkan adik
4. Menikah ketika sudah bisa mengUmrahkan orangtua setidak-tidaknya ayah atau ibu.
Dan masih banyak lagi target yang harus tercapai baru MENIKAH.

Namun ketika dalam perjalanan mewujudkan impian dan target-target yang sudah di rancang, hasil nya tidak sesuai dengan harapan, S-2 ke Eropa tepatnya Perancis tidak jadi karena Jurusan yang tidak Linear, padahal persiapan bahasa selama 6 bulan sudah dikejar, dan karena Private bahasa Perancis selama 6 bulan ini mengakibatkan S-2 yang sudah di ambil di kampus UIN Su dengan ikhlas harus ditinggalkan, selanjutnya aktivitas mengajar di sekolah kembali kulanjutkan, karena bagaimana pun kesibukan dan apapun impian ku, aku juga harus bisa mengusahakan impian adek ku untuk bisa menjadi Hafidz Al-Qur'an, karena sesuai tekad ku, setamat dari SD adik ku yang terakhir untuk jenjang pendidikan berikutnya MTs sampai Aliyah nya harus aku yang biayai dan Alhamdulillah, kembali dengan izin Allah ia bisa masuk ke salah satu Pesantren Tahfidz Al-Qur'an di Medan. 

Seiring berjalannya waktu, sambil mengajar di sekolah-sekolah swasta sebagai guru honor yang gajinya Alhamdulillah pas-pasan untuk makan dan bensin sepeda motor, sambil melanjutkan pekerjaan dari awal kuliah S-1 dahulu yaitu menjadi Marbot (Pengurus Masjid) dan guru mengaji serta guru privat rumah ke rumah, alhamdulillah dengan rezeki itu bisa menghidupi ku dan adik ku yang sedang menghafal Al-Qur'an. 

Namun, dicelah-celah aktivitas dan rutinitas yang kujalani saat itu, timbul lagi dibenakku seperti pembicaraan ku dengan teman ku dahulu, apakah aku akan menikah ketika usia ku sudah lanjut?.. karena bila prinsip lama ku yang kupedomani, boleh jadi pernikahan ku akan berlangsung setelah usia minimal 35 tahun atau 40 tahun, setelah adikku tamat sekolah dan orang tua kuumrahkan dari gaji hasil mengajar dan bantuan saudara ku. 

Seketika itu Mulailah perasaan bingung menghampiri kehidupan Bang Regar, apalagi saat itu berdatangan undangan pernikahan teman sekampus dan teman sekolah. Apa tidak semakin galau?... Ditambah lagi pertanyaan-pertanyaan dari kiri, kanan, muka, belakang, dari penanya yang jumlahnya tidak hanya satu dua orang,
Bahkan bisa puluhan orang yang bertanya, namun pertanyaannya hampir sama semua, yaitu KM ( Kapan Menikah?). Wah.. semakin kacau deh... Istilah gaulnya "Apa Jawab Dunia??" Hehehhe.

Bagaimana menurut saudara/i pembaca?.. 
Mau Menikah,  atau lanjutkan aktivitas seperti biasa.. 
Mungkin hampir sama bagi kaum Adam, ketika ditanya kenapa belum Menikah? Kemungkinan besar jawabannya, karena oh karena, belum dapat jodoh yang cocok....
Atau mungkin jawabannya, karena belum mapan, bagaimana mau menikah? Makan aja  bisa udah syukur kata bang . Yah, masuk diakal juga sih, saat masih lajang gaji pas-pasan akan bisa dipas-paskan untuk kehidupan sendiri, nah kalau udah menikah pasti akan berfikir cari rumah kontrakan, bayar listrik, bayar air, belik kebutuhan rumah tangga, kebutuhan istri dan masih banyak lagi yang mau dibelik dengan uang yang pas-pasan.

Inilah mungkin alasan sebagian anak muda maka nya lama membujang. Begitu juga dengan penulis ketika itu, Sebab penulis sudah merasa santai saat itu, sejak dari awal kuliah sampai tamat kuliah tidak pernah merasakan yang namanya bayar uang kos-kosan, karena sejak dahulu nya sudah menjadi pengurus masjid, jadi sudah lumayan enak, tempat tinggal disediakan, listrik air gratis, bahkan sering mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka berupa makanan, uang, baju dan sebagainya. Padahal kerjanya hanya membersihkan Masjid, kamar mandi Masjid, halaman nya, mulai dari menyapu, ngepel lantainya, membersihkan sajadah nya, azan, Iqamat, Menjadi Imam, mengisi Khutbah saat khatib berhalangan, ikut perwiritan bapak-bapak, ikut pengajian anak remaja masjid dan lain sebagainya.

Oke deh kita lanjut kembali cerita bang Regar dahulu,
 Disaat-saat memuncak dilema hati bang Regar tentang karir yang akan dicapai dan menemukan sidambaan hati, ia beranikanlah meminta pendapat orang tua nya, sebab sudah kebiasaan bang Regar untuk bertanya pada ibu nya bila ia mendapati masalah dalam hidupnya.
Ia sampaikan isi hatinya, bahwa ia sudah merasa cocok untuk menikah, meskipun persiapan finansial nya belum ada, paling tidak ia ingin tahu bagaimana respon ibu nya, dan Alhamdulillah, kembali bg Regar mendapatkan respon yang baik,  mama nya menjawab " ia nak, kalau sudah ada yang cocok tidak masalah itu, InshaAllah cita-cita baik mu pun akan tercapai, meskipun bila kamu sudah menikah, atau mungkin impian mu itu akan lebih mudah terkabul ketika kau sudah punya istri nak," mendengar jawaban mamaknya, bang Regar rasanya seperti kejatuhan emas satu ember.. MashaAllah. Terakhir nasehat mama bang Regar, " carilah nak yang cocok menurut mu, dan cocok
 menurut yang maha kuasa Artinya terlebih dahulu Sholat Istikharah kan dahulu", mengapa mama bg Regar mengingatkan harus dari hasil Istikharah, karena ia mengetahui bahwa anaknya tidak sedikit anak gadis yang mendekati dan Pdkt padanya.
Dari diskusi bg Regar dengan mamak nya, hingga terbuka lebar bagi nya pintu untuk akan segera menyempurnakan separuh Agama nya, Sebab bg Regar tahu, bilamana mamanya sudah Ridho, meskipun modal Nikah bg Regar belum ada,  InshaAllah dengan kata-kata dan ilmu Negosiasi ibu nya semua urusan akan lancar. 

Semua ketakutan dan kekhawatiran bang Regar tentang Dana dan biaya kehidupan setelah Nikah nanti bisa 

diatasi. Apalagi setelah berkali-kali mendengar kan ceramah UAH / Ustadz Adi Hidayat semoga Allah merahmatinya, dalam ceramahnya lewat YouTube,. Diantara Nasehat dan pesan beliau kurang lebih seperti " Jangan pernah pakai Logika anak muda dengan logika ketika sudah berkeluarga, sebab perhitungan saat masih lajang tidak sama dengan perhitungan ketika berkeluarga (perhitungan masalah rezeki) yang penting Yakin dengan Hadist nabi bahwa dengan Menikah akan memperluas Rezeki, setelah Yakin baru berusaha dan berdoa," seperti itulah kurang lebih makna ceramah dari UAH, dan begitu juga dengan calon istri yang sudah didapatkan bang Regar lewat Sholat Istikharah dan Tahajjud nya, yang selalu memotivasi, menyemangati, dan meyakinkannya, "InshaAllah pasti bisa Akhy, apa yang antum impikan dan cita-cita kan tidak akan terhalangi oleh pernikahan, asal usaha dan doa yang dilakukan sungguh-sungguh, serta selalu minta doa dan Ridho orang tua." Begitulah kurang lebih masukan dari calon ibu bagi anak-anak bang Regar kala itu. 

Dengan begitu bg Regar pun sampaikan Niatan nya kepada orang tuanya, bahwa setelah Hari Raya Idul Fitri 1440 H/ atau bulan Juni 2018, bila Allah berkehendak dan direstui oleh ibu dan ayah mereka akan melanjutkan pernikahan nya. 

Namun mendengar semangat anak nya yang untuk beribadah ini, maka mama bang Regar pun menawarkan untuk apa diperlambat hal baik, sesuatu yang baik itu tidak baik diperlambat begitulah kira-kira pernyataan mama bg Regar,  bagaimana kalau sebelum Puasa aja dilangsungkan akad pernikahan nya dan resepsi nya ujar mamak Bg Regar, Alhamdulillah usulan itupun disetujui oleh dua belah pihak, tepat pada tanggal 6 April 2018 bertepatan dengan hari Jumat, Akad pernikahan kami pun diberlangsungkan di kediaman mempelai wanita tepat nya di Desa Parbeokan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun Siantar. 

Dengan Motivasi Hadits nabi yang Bang Regar pelajari ketika di Pesantren dahulu, dan Meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Rezeki orang yang sudah menikah tidak akan sama dengan yang belum menikah ternyata hal ini sangat benar adanya, Maha Benar Allah dengan segala janji-janjiNya dan dengan Kebenaran Muhammad Rasulullah dengan seluruh perkataan dan perbuatannya.
Inilah Hadist yang Menjadi Motivasi bagi bang Regar pada khususnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya :

Dari 'Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya     mereka     akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu" (HR. Hakim dan Abu Dawud). 

Dan Alhamdulillah dengan Izin ALLAH SWT. Setelah kami menikah, beberapa cita-cita dan impian bang Regar dapat jadi kenyataan.:
○Adek kami terus melanjutkan Hafalan Qur'annya, 3 Tahun di Pesantren Darul Qur'an, setamat dari DaQu, ia melanjutkan ke Rumah Tahfidz Zamzami dan formal nya di MTs.Al-Washliyah Qismul Ali Jl.Ismailiyah Medan.
○Saat adik perempuan Tamat Aliyah dan berkeinginan masuk TAHFIDZ AL-QUR'AN, Alhamdulillah bisa.
○Bisa melakukan Cicilan sepeda motor dan Alhamdulillah sudah selesai.
○Setelah Menikah bisa Melanjutkan dan Menyelesaikan Pendidikan S-2
○Bisa Umrah bersama Ibu tercinta (belum genap 2 Tahun Pernikahan kami)
○Bisa Membeli Pertapakan Rumah di ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Tepatnya Kota Medan.

Dan masih banyak lagi perolehan Rezeki dari Allah SWT yang kami dapatkan setelah pernikahan kami. Hingga pada akhirnya bila ada teman yang bertanya, "Bagaimana Rasanya  setelah MENIKAH"?..

Maka saya pun menjawab " Saya Menyesal Menikah Lama, kenapa harus di Usia 24 Tahun lebih MENIKAH nya, kenapa tidak saat usia 20 Tahunan dahulu" karena begitu Banyak yang didapat kan saat sudah MENIKAH, Diantara nya Tersempurnakan separuh Agama, Terjaga nya hati dan anggota tubuh dari maksiat, Mendapatkan banyak Rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

*Logika Rezeki saat Menikah*
1+1+1= 111
1 Sumber Rezeki dari Suami
1 Sumber Rezeki dari Istri
1 Sumber Rezeki dari Anak
Sama dengan hasilnya banyak Allah kasih.

*Logika Rezeki Bujangan/Jomblo*
Sumber Rezeki hanya diri sendiri, jadi hasil nya pas-pasan untuk diri sendiri.



Penulis: Andi Suhendra SIREGAR



Tidak ada komentar:

Posting Komentar