Pendahuluan.
Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]
Sejak awal keujudan manusia, manusia dapat perhatikan hubungan berpasangan ini telah wujud. Di mana lelaki pasanganya wanita, langit pasangannya bumi, matahari pasangannya bulan, siang pasangannya malam.
Di dalam Islam, kita turut diajar soal dosa pasangannya pahala, syurga dan neraka, syaitan dan malaikat, dan sebagainya. Namun terkadang didalam kehidupan sehari-hari manusia lalai dengan hal ini, jadi ketika seseorang berada pada posisi yang kurang menyenangkan menurut pribadinya, dengan seenak nya ia mengatakan Allah tidak Adil, padahal bila ia kembali dengan ayat 36 surat yaasin, sudah jelas dan tegas Allah telah menjadikan sesuatu serba berpasangan, bila hari ini kita dalam keadaan susah berarti disatu sisi ada saudara kita dalam keadaan senang, bila kita sedang miskin sudah jelas ada saudara kita yang sedang kaya, dengan begitu kehiupan ini saling berpasangan yang harus disukuri pada setiap waktunya. sebab bilamana keadaan manusia seluruh nya kaya, atau seluruh penghuni bumi ini miskin maka keadaan nya tidak seindah yang kita alami hari ini.
Pembahasan
Mengenai Pilih memilih adalah pilihan, atau apapun keadaan dan kondisi kita yang tidak kita pilih dari awal itu sudah Taqdir.
Diera millenial ini kita sering mendengar istilah the Life is Choice yang kira-kira artinya Hidup adalah Pilihan. Bilamana ketika mencermati kalimat singkat ini, seolah-olah segala tindak tanduk maupun keadaan yang dialami hari ini adalah hasil dari pilihan kita dimasa lampau, apa betul seperti ini.? Kita ambil permisalam seorang pengemis, bila hari ini si pengemis jalanan dengan baju yang kumuh, bau, jorok, dan penuh dengan tempelan serta koyak-koyakan dibajunya adalah pilihan dia sendiri dimasa lampau, apa benar ia sendiri yang memilih jalan nya hidupnya seperti itu? sudah tentu jawaban nya tidak...! sebab bila ditanya kepada sipengemis tadi bila ada dua pilihan yang dipilihkan kepadanya, maka ia pasti akan memilih yang terbaik daripada ia harus menjadi pengemis jalanan. Dalam kasus ini, sipengemis tadi dalam satu sisi ia tidak memilih, ia hanya pasrah dan menerima nasib nya, padahal boleh jadi yang kuasa menakdirkan nya untuk menjadi orang sukses, namun ketika ia menjadi pengemis pilihan nya untuk bekerja keras masih ia kesampingkan, ia masih memilih untuk menjadi peminta-minta dan mengharap belas kasihan orang daripada harus bekerja keras merubah nasib nya. Nah, pada satu sisi lain lagi, pengemis ini sebenanrnya sudah memilih, yaitu memilih menjadi orang malas dan pemalas hingga akhirnya nasib nya terus seperti itu.
Kemudian muncul pertanyaan, "Apakah si pengemis tadi sudah ditaqdirkan menjadi pengemis oleh yang maha kuasa atau tidak''?.
Maka untuk menjawab pertanyaan diatas ialah kembali kepada obyek nya. bilamana obyek disini sudah bekerja pada pekerjaan lain, namun pekerjaan yang dikerjakan nya tidak menghasilkan apa-apa sama sekali alias rugi atau tidak memperoleh hasil sama sekali, atau di istilahkan ia tidak bisa bekerja dengan pekerjaan yang menggunakan otak sebab ia tidak pernah sekolah, dan juga tidak bisa bekerja dengan menggunakan otot sebab dari segi fisik ia ada kurangnya atau cacat, dan pekerjaan yang bisa dikerjakannya hanya mengharap belas kasihan dengan cara mengemis, maka menurut analisa saya pengemis tadi bernasib buruk, bukan berarti Taqdir dia seperti itu. Sebab boleh jadi bila ia memiliki tekad yang kuat untuk mengfungsikan yang ada pada dirinya untuk bisa merubah hidupnya, maka sudah dipastikan ia bisa berubah untuk lebih baik lagi. Bukankah Al-Quran telah menjelaskan bahwa : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS Arr'ad / 13:11.
Dari ayat ini jelas bahwa Allah tidak akan pernah mengubah nasib atau keadaan Kaum maupun pribadi seseorang kalau bukan orang itu sendiri yang mengubahnya.
Dari contoh pengemis diatas, dapat diambil pelajaran bahwa, apapun pilihan hidup kita hendaklah kita pilih pilihan yang terbaik, sehingga dengan pilihan terbaik tersebut, kita berharap apa yang telah kita usahakan dengan semaksimalnya memang itulah hasil yang terbaik ALLAH berikan.
Penutup
Sebagai Makhluk yang sempurna dalam penciptaan, hendaklah kita bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita. sebab Allah yang maha kuasa telah memberikan nikmat yang tiada tara, tidak akan bisa dihitung atau disebutkan satu persatu oleh lisan maupun tulisan. Maka dari itu Ucapan dan tulisan yang layak dan pantas ialah SYUKUR ALHAMDULILLAH 'ALA KULLI NI'MAH, dan untuk Persoalan Pilih Memilih adalah Pilihan atau Taqdir, kedua-dua nya hampir bersamaan, sebab Memilih atau tidak kita, sebenarnya pada hakikat nya kita sudah memilih untuk Taqdir kita, yaitu ketika sbelum kita terlahir kedunia ini, pada saat di alam Roh setiap insan sudah mengadakan perjanjian dengan Khaliqnya, Dalam surat Al-A'raaf:172 , kita punya perjanjian dengan Allah Sang Khalik Maha Pencipta. "alastu birabbikum > Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Allah berkata dan kita pun menjawab "balaa syahidnaa > Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". Itulah yang Allah tanyakan kepada tiap manusia saat di alam arwah sebelum kita dilahirkan kedunia ini. Hal ini Allah lakukan agar ketika nanti kita dimintai pertanggungjawaban maka kita tidak bisa memungkirinya.
Jelas Sudah bukan?. sebelum lahir kedunia pun, manusia telah memilih untuk menjadi Hamba yang Taat kepada Allah, bilamana ketika sesorang terlahir kedunia kemudian ia menjadi Kafir Nasrani, Majusi, atau Yahudi itu tergantung pada orangtuanya, sebab semasa dalam kandungan semua manusia dalam keadaan FITRAH. Allahu a'lam bissowaf.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar