TAQDIR KU
Nama ku Andi
Suhendra Siregar, anak ke 6 dari 10 bersaudara. Terlahir sebagai anak petani
merupakan sebuah takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt sejak zaman azali,
sehingga aku harus menerima nya dengan penuh rasa syukur.
Meskipun terkadang ada bisikan dari hati kecil
ku, mengapa aku terlahir menjadi anak petani? sebab bisikan ini muncul karena
terkadang iri melihat teman sebaya yang mereka terlahir dari anak pengusaha,
anak guru, dan anak pedagang. Sesekali aku memperhatikan aktivitas mereka, pekerjaan
mereka hanya belajar di sekolah, dan sepulang dari sekolah mereka akan bermain
dengan teman sepermainannya, hanya sesekali mereka membantu orangtua, dan
pekerjaan yang mereka lakukan itu hanya pekerjaan ringan menurut ku, karena
hanya menyiram bunga ketika sore hari, dan membantu ibu membersihkan rumah dan
pekarangan nya.
Anak petani
lainnya pun hampir sama dengan ana-anak pedagang, anak guru, dan anak
pengusaha, sebab orangtua mereka kuat secara fisik dan lengkap aggota fisiknya,
sehingga orangtua mereka sudah mampu
mengerjakan pekerjaan mereka sendiri. Sehingga anak-anak mereka hanya
seseekali diajak untuk membantu pekerjaan diladang.
Namun tidak denganku, anak petani yang keadaan
ayah tidak sesempurna ayah orang lain, secara fisik mengharuskan kami anak-anak
nya harus ikut serta bekerja seperti yang apa dikerjakan oleh orangtua kami,
ayahku sejak anak muda sudah gemar bekerja, tanpa pernah mengeluh dengan
pekerjaan nya, pekerjaan apapun itu, selama itu halal menurut syariƔt Islam
maka ia akan kerjakaan. Dan dengan perantaraan pekerjaanlah membuat ayah harus rela menjalani hidup nya dengan satu
tangan.
Ayah bercerita
kepada kami, sekita 4 atau 5 bulan setelah menikah dengan ibu, ayah berniat
ingin membuka ladang di tanah almarhum kakek yang kosong dan dahulu tanah itu
masih hutan belantara belum pernah dijamah oleh tangan manusia. Setelah
menyelesaikan pembersihan pada rumput-rumput yang kecil, kurang lebih 3 minggu,
dilanjutkan lah untuk menebang pohon-pohon yang besar, umur kayu itu puluhan
tahun, beberapa pohon telah ia tumbangkan dengan menggunakan kapak, ia
mengerjakannya dengan seorang diri.
Hingga pada
suatu hari yang tidak pernah ia duga, saat ayah menebang pohon yang besar,
berkali-kali ia tebaskan kapak andalannya ke permukaan kulit kayu, secara
perlahan kayu tersebut mendekati fase untuk tumbang, namun saat pohon itu
tumbang, ayah tidak menyadari ada dahan kayu kering yang akan jatuh kearah nya,
dengan hitungan detik dahan tersebut
mengenai bahu dan lengan sebelah kiri nya, saat itu taqdir mengakhiri ayah memiliki
dua tangan, berbagai pengobatan dilakukan, namun tidak ada hasil nya, hingga hari
ini tangan kirinya lumpuh dan tidak bisa difungsikan seperti sedia kala.
Dengan kondisi
tangan satu ia menafkahi keluarga, membesarkan anak-anaknya, sehingga ketika
anak-anaknya menginjak pendidikan tingkat Sekolah Dasar, kami sudah dididik
untuk bisa membantu pekerjaan mereka,, seperti berladang, kami diajari
bagaimana menanam padi secara baik dan benar, diajari menanam sayur-sayuran
dengan baik dan bagaimana cara merawat nya agar bisa tumbuh subur sampai bisa
dipanen, hingga hasilnya dapat kami konsumsi dan kami jual.
Meskipun keadaan ayah tidak sesempurna
orangtua lainnya, namun satu hal yang saya banggakan dari nya, yaitu
kesungguhan nya dalam bekerja. Ia tidak pernah mengeluh atau ingin merepotkan
orang lain, selama ia masih mampu untuk menyelesaikan pekerjaan nya maka ia
akan terus berusaha dengan sekuat usaha dan tenaga nya.
Mekipun
terlahir dari keadaan orangtua yang sederhana, namun kami diajarkan untuk
mandiri, dan kami terus dimotivasi untuk bisa mengenyam pendidikan sampai
perguruan tinggi. Saat saya masih SD, saya sudah diajarkan untuk bisa berdagang
kesekolah, dagangan yang kujual merupakan hasil dari kebun kami diladang,
seperti kacang tanah yang direbus, tape ubi, dan cenil (makanan manisan yang terbuat dari tepung,kelapa, dan
gula merah).
Sebelum aku,
abang dan kakak ku pun juga telah melakukan seperti yang ku lakukan terlebih
dahulu, setiap hari sepulang dari sekolah, setelah shalat zuhur dan makan
siang, maka aku akan bergegas untuk pergi ke ladang membantu ayah untuk
mencukai (memberikan cairan alat pengering getah karet), selain berladang ayah
juga memahat pohon karet, agar getah yang dipahat ayah sejak pagi tidak hancur
oleh air hujan, maka aku diminta untuk mencukai nya.
Selama 3 atau 4
hari pohon karet di pahat ayah, maka tibalah hari untuk memanen getah karet
tersebut, tepat nya pada hari minggu, bertepatan hari libur sekolah. Teman
seusia ku ketika hari libur akan bermain beramai-ramai didepan rumah, ada juga
yang bermain bola kaki dilapangan, dan ada yang hanya tinggal dirumah sambil
menonton filim kesukaan nya.
Lain hal nya dengan ku dan saudara-saudara ku,
karena pada hari minggu itu kami akan berjuang mengumpulkan secuil demi secuil
getah yang lengket di tempurung untuk dikumpulkan kedalam satu ember, dengan
penampilan yang menyedihkan, sejelek-jelek pakaian yang ada dirumah, maka itu
lah yang akan kami kenakan untuk kerja dikebun karet.
Saat tamat
dari Sekolah Menengah Atas tepatnya dari Madrasah Aliyah di pesantren ku, aku memberanikan
diri untuk merantau ke kota dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Meskipun orangtua sudah mengatakan bahwa kemampuan orangtua menyekolahkan hanya
sampai jenjang SMA, maka aku berniat
untuk kuliah dengan biaya sendiri, dan mencari beasiswa-beasiswa.
Dari Tsanawiyah
dan Aliyah aku sudah terbiasa untuk belajar mandiri, belajar sambil mencari
uang merupakan kebiasaanku, dahulu ketika mondok di Pesantren,aku diberi izin
oleh ustadz untuk keluar ke perkampungan guna mengajari anak-anak membaca
Al-quran, belajar Shalat, dan sebagainya. Jadi ketika kuliah aku sudah terbiasa
untuk mandiri, caraku mensiasati agar kehidupan di kota bisa lebih hemat, maka
aku tinggal di Masjid, dari masjid aku bisa mengajar anak-anak, dari rumah ke
rumah aku mengajar, dan alhamdulillah para orangtua murid memberikan honor
kepada ku, uang itulah ku manfaatkan untuk keperluan hidup dan kuliah.
Selain aktif
di lingkungan masjid, aku juga aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan
dikampus, dengan demikian Alhamdulillah informasi beasiswa sering kudapatkan. Beberapa Beasiswa
yang pernah kudapatkan semasa kuliah: Beasiswa DIPA dari kampus UIN-SU,
Beasiswa Bank Indonesia, Beasiswa PemKab PALUTA, PLN Sumut, dan bantuan dari
walikota Medan. Hingga akhirnya aku dapatkan menyelesaikan perkuliahan selama 3,5
tahun dengan IPK camlaude 3,88 dan aku termasuk mahasiswa pecinta organisasi, selama
menjadi mahasiswa aku tergabung dalam : HmI(Anggota biasa), BKPRMI(ketua bidang
LPPSDM),KNPI(ketua Departemen Keagamaan), PII Kota Medan(Ketua umum), Remaja Masjid(Ketua
Umum), Ikatan Alumni Pesantren Daarul Muhsinin(Ketua Umum), HMJ PAI(Ketua Umum),
IPSSI Cab. CS (anggota). Disini saya melawan sebagian perkataan orang” bila
aktif berorganisasi maka perkuliahan akan lama tamatnya dan nilai akan anjlok
alias rendah, tapi saya berusaha merubah mindset tersebut dengan membuktikan
pada pribadiku.
Motto hidup”sebaik-baik manusia adalah
orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar