Kamis, 22 Agustus 2019

TAQDIR KU


TAQDIR KU

Nama ku Andi Suhendra Siregar, anak ke 6 dari 10 bersaudara. Terlahir sebagai anak petani merupakan sebuah takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt sejak zaman azali, sehingga aku harus menerima nya dengan penuh rasa syukur.
 Meskipun terkadang ada bisikan dari hati kecil ku, mengapa aku terlahir menjadi anak petani? sebab bisikan ini muncul karena terkadang iri melihat teman sebaya yang mereka terlahir dari anak pengusaha, anak guru, dan anak pedagang. Sesekali aku memperhatikan aktivitas mereka, pekerjaan mereka hanya belajar di sekolah, dan sepulang dari sekolah mereka akan bermain dengan teman sepermainannya, hanya sesekali mereka membantu orangtua, dan pekerjaan yang mereka lakukan itu hanya pekerjaan ringan menurut ku, karena hanya menyiram bunga ketika sore hari, dan membantu ibu membersihkan rumah dan pekarangan nya.
Anak petani lainnya pun hampir sama dengan ana-anak pedagang, anak guru, dan anak pengusaha, sebab orangtua mereka kuat secara fisik dan lengkap aggota fisiknya, sehingga orangtua mereka sudah mampu  mengerjakan pekerjaan mereka  sendiri. Sehingga anak-anak mereka hanya seseekali diajak untuk membantu pekerjaan diladang.
 Namun tidak denganku, anak petani yang keadaan ayah tidak sesempurna ayah orang lain, secara fisik mengharuskan kami anak-anak nya harus ikut serta bekerja seperti yang apa dikerjakan oleh orangtua kami, ayahku sejak anak muda sudah gemar bekerja, tanpa pernah mengeluh dengan pekerjaan nya, pekerjaan apapun itu, selama itu halal menurut syariĆ”t Islam maka ia akan kerjakaan. Dan dengan perantaraan pekerjaanlah membuat ayah  harus rela menjalani hidup nya dengan satu tangan.
Ayah bercerita kepada kami, sekita 4 atau 5 bulan setelah menikah dengan ibu, ayah berniat ingin membuka ladang di tanah almarhum kakek yang kosong dan dahulu tanah itu masih hutan belantara belum pernah dijamah oleh tangan manusia. Setelah menyelesaikan pembersihan pada rumput-rumput yang kecil, kurang lebih 3 minggu, dilanjutkan lah untuk menebang pohon-pohon yang besar, umur kayu itu puluhan tahun, beberapa pohon telah ia tumbangkan dengan menggunakan kapak, ia mengerjakannya dengan seorang diri.
Hingga pada suatu hari yang tidak pernah ia duga, saat ayah menebang pohon yang besar, berkali-kali ia tebaskan kapak andalannya ke permukaan kulit kayu, secara perlahan kayu tersebut mendekati fase untuk tumbang, namun saat pohon itu tumbang, ayah tidak menyadari ada dahan kayu kering yang akan jatuh kearah nya, dengan hitungan detik  dahan tersebut mengenai bahu dan lengan sebelah kiri nya, saat itu taqdir mengakhiri ayah memiliki dua tangan, berbagai pengobatan dilakukan, namun tidak ada hasil nya, hingga hari ini tangan kirinya lumpuh dan tidak bisa difungsikan seperti sedia kala.                   
Dengan kondisi tangan satu ia menafkahi keluarga, membesarkan anak-anaknya, sehingga ketika anak-anaknya menginjak pendidikan tingkat Sekolah Dasar, kami sudah dididik untuk bisa membantu pekerjaan mereka,, seperti berladang, kami diajari bagaimana menanam padi secara baik dan benar, diajari menanam sayur-sayuran dengan baik dan bagaimana cara merawat nya agar bisa tumbuh subur sampai bisa dipanen, hingga hasilnya dapat kami konsumsi dan kami jual.
 Meskipun keadaan ayah tidak sesempurna orangtua lainnya, namun satu hal yang saya banggakan dari nya, yaitu kesungguhan nya dalam bekerja. Ia tidak pernah mengeluh atau ingin merepotkan orang lain, selama ia masih mampu untuk menyelesaikan pekerjaan nya maka ia akan terus berusaha dengan sekuat usaha dan tenaga nya.
Mekipun terlahir dari keadaan orangtua yang sederhana, namun kami diajarkan untuk mandiri, dan kami terus dimotivasi untuk bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Saat saya masih SD, saya sudah diajarkan untuk bisa berdagang kesekolah, dagangan yang kujual merupakan hasil dari kebun kami diladang, seperti kacang tanah yang direbus, tape ubi, dan cenil (makanan  manisan yang terbuat dari tepung,kelapa, dan gula merah).
Sebelum aku, abang dan kakak ku pun juga telah melakukan seperti yang ku lakukan terlebih dahulu, setiap hari sepulang dari sekolah, setelah shalat zuhur dan makan siang, maka aku akan bergegas untuk pergi ke ladang membantu ayah untuk mencukai (memberikan cairan alat pengering getah karet), selain berladang ayah juga memahat pohon karet, agar getah yang dipahat ayah sejak pagi tidak hancur oleh air hujan, maka aku diminta untuk mencukai nya.
Selama 3 atau 4 hari pohon karet di pahat ayah, maka tibalah hari untuk memanen getah karet tersebut, tepat nya pada hari minggu, bertepatan hari libur sekolah. Teman seusia ku ketika hari libur akan bermain beramai-ramai didepan rumah, ada juga yang bermain bola kaki dilapangan, dan ada yang hanya tinggal dirumah sambil menonton filim kesukaan nya.
 Lain hal nya dengan ku dan saudara-saudara ku, karena pada hari minggu itu kami akan berjuang mengumpulkan secuil demi secuil getah yang lengket di tempurung untuk dikumpulkan kedalam satu ember, dengan penampilan yang menyedihkan, sejelek-jelek pakaian yang ada dirumah, maka itu lah yang akan kami kenakan untuk kerja dikebun karet.
Saat tamat dari Sekolah Menengah Atas tepatnya dari Madrasah Aliyah di pesantren ku, aku memberanikan diri untuk merantau ke kota dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Meskipun orangtua sudah mengatakan bahwa kemampuan orangtua menyekolahkan hanya sampai jenjang SMA, maka  aku berniat untuk kuliah dengan biaya sendiri, dan mencari beasiswa-beasiswa.
Dari Tsanawiyah dan Aliyah aku sudah terbiasa untuk belajar mandiri, belajar sambil mencari uang merupakan kebiasaanku, dahulu ketika mondok di Pesantren,aku diberi izin oleh ustadz untuk keluar ke perkampungan guna mengajari anak-anak membaca Al-quran, belajar Shalat, dan sebagainya. Jadi ketika kuliah aku sudah terbiasa untuk mandiri, caraku mensiasati agar kehidupan di kota bisa lebih hemat, maka aku tinggal di Masjid, dari masjid aku bisa mengajar anak-anak, dari rumah ke rumah aku mengajar, dan alhamdulillah para orangtua murid memberikan honor kepada ku, uang itulah ku manfaatkan untuk keperluan hidup dan kuliah.
Selain aktif di lingkungan masjid, aku juga aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan dikampus, dengan demikian Alhamdulillah informasi  beasiswa sering kudapatkan. Beberapa Beasiswa yang pernah kudapatkan semasa kuliah: Beasiswa DIPA dari kampus UIN-SU, Beasiswa Bank Indonesia, Beasiswa PemKab PALUTA, PLN Sumut, dan bantuan dari walikota Medan. Hingga akhirnya aku dapatkan menyelesaikan perkuliahan selama 3,5 tahun dengan IPK camlaude 3,88 dan aku termasuk mahasiswa pecinta organisasi, selama menjadi mahasiswa aku tergabung dalam : HmI(Anggota biasa), BKPRMI(ketua bidang LPPSDM),KNPI(ketua Departemen Keagamaan), PII Kota Medan(Ketua umum), Remaja Masjid(Ketua Umum), Ikatan Alumni Pesantren Daarul Muhsinin(Ketua Umum), HMJ PAI(Ketua Umum), IPSSI Cab. CS (anggota). Disini saya melawan sebagian perkataan orang” bila aktif berorganisasi maka perkuliahan akan lama tamatnya dan nilai akan anjlok alias rendah, tapi saya berusaha merubah mindset tersebut dengan membuktikan pada pribadiku. 
Motto hidup”sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar